Peran Suami

Menjadi istri selama tiga bulan, menempa lahir dan batin saya. Terkadang ketika iman sedang tinggi rasanya menjadi seorang istri merupakan anugerah dari Allah, karena akan banyak ladang pahala di depan mata saya. Namun ketika sedang futur, rasanya beban di dalam diri ini sangat berat, tak sanggup menanggungnya.

Di sisi lain ketika saya melihat pernikahan di dalam sudut pandang yang lebih luas, menikah sesungguhnya adalah sebuah keindahan. Bagaimana tidak, setiap hari selalu ada teman yang siap sedia menjadi tempat untuk berkeluh kesah. Tanpa dimintai tolong pun, orang tersebut akan dengan senang hati menanyakan kabar, menanyakan kondisi hati, membantu menenangkan perasaan yang sedang gundah.  Lanjutkan membaca “Peran Suami”

Nasihat Menikah Muda

Menikah di usia 20 tahunan, bagi seorang wanita merupakan sebuah tantangan yang besar. Pada umumnya di usia 20 tahunan awal, wanita cenderung sedang menikmati masa starting point menentukkan karir mana yang akan dipilih, baru saja menikmati puncak semangat berkarir di pekerjaannya masing-masing. Maka bagi anda yang ingin memutuskan menikah di usia muda (di awal 20-an) ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan

1.Memilih Pasangan Yang Memahami dan Dapat Membimbing

Menemukan pria terbaik dalam hidupnya merupakan dambaan bagi semua wanita. Begitu pun saya. Hal ini sebenarnya merupakan hal penting bagi wanita yang ingin menikah di usia berapapun. Namun ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan bagi wanita yang ingin menikah di usia 20-an awal. Pertama, carilah pria yang dewasa dan bisa membimbing serta menyesuaikan diri terhadap Anda. Hal ini penting, karena sebagai wanita muda biasanya kita lebih cenderung memiliki idealisme yang masih tinggi dan memiliki sejuta mimpi yang ingin dibangun. Hal ini merupakan poin penting, dimana harus menemukan suami yang bisa menjadi penyemangat bagi kita juga dalam mewujudkan mimpi dan harapan yang masih menggebu. Selain itu dibutuhkan juga suami yang dapat menjadi panutan, hal ini penting untuk dapat menjadikan kita terus termotivasi dalam upgrading diri.

2. Belajar untuk Menjaga Emosi

Rumah tangga pada kenyataannya memiliki banyak sekali tantangan. Apabila anda masih memiliki pemikiran bahwa berumahtangga merupakan sebuah solusi, mungkin anda harus lebih banyak berdiskusi dan membaca buku mengenai apa itu rumah tangga.

Saya mulai serius belajar mengenai rumah tangga ketika saya memiliki niat untuk menikah. Dan kesimpulan besar yang saya dapatkan adalah, “Pernikahan merupakan sebuah tantang baru dalam hidup, merupakan katalisator dalam menaikkan level diri, dan sebuah ikatan yang menjadikan saya lebih sabar jika saya menjalankannya dengan ikhlas.” Pernikahan itu bukan satu hal yang mudah, ini adalah hal yang sangat sulit dan tidak bisa dipahami jika tidak terjun dan mengalaminya sendiri.

Pernikahan merupakan hal unik, yang bisa membuat emosi naik turun, bisa membuat kita sangat bahagia, bisa membuat kita sedih tanpa sebab. Mirip seperti hubungan pada umumnya, namun ada satu hal yang tidak bisa didapatkan dari hubungan pacaran atau hubungan biasa lainnya, hanya bisa didapatkan dalam pernikahan yaitu adalah KETENANGAN. Namun dengan catatan bahwa ada keimanan atau kepercayaan yang mendasari pernikahan tersebut.

Di dalam pernikahan, perbedaan pendapat merupakan suatu hal yang akan mudah sekali dijumpai. Biasanya perbedaan ini mengenai hal-hal remeh temeh, yang sebenarnya juga berujung pada satu kesimpulan yang sama. Apabila kita atau pasangan kita mudah emosi, dan mudah tersinggung mungkin perdebatan yang seharusnya menjadi masukan untuk menambah knowledge kita malah menjadi perusak hubungan dan menimbulkan konflik yang lebih besar. Saya dengan suami sendiri lebih suka menyebutnya sebagai diskusi, dimana perdebatan kecil yang muncul sebisa mungkin kami jadikan sebagai sebuah ajang untuk bermusyawarah untuk mencapai mufakat.

3. Menyamakan Prinsip, Visi, dan Misi Kehidupan

Dalam pernikahan, terdapat dua subjek yang memiliki keinginan masing-masing. Terkadang keinginan itu bisa sama, namun tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan itu bisa saja berbeda-beda.

Sebelum keputusan untuk menikahi seseorang sudah di depan mata,  hal pertama yang harus dipertimbangkan adalah kesamaan prinsip hidup, visi hidup, dan misi hidup. Hal ini penting karena ketiga hal ini merupakan dasar bagi manusia dalam mencapai cita-cita dan impiannya.

Contoh sederhana yang dapat menimbulkan konflik apabila ketiga hal ini berbeda adalah prinsip tentang mandi. Salah satu sahabat saya pernah bercerita bahwa salah satu hal dasar dalam dirinya dan suaminya yang berbeda adalah soal mandi. Ketika menikah, ternyata ia menikahi seorang suami yang memiliki prinsip mandi satu hari sekali cukup, apapun bentuk aktivitasnya selama satu hari. Hal ini sering menimbulkan konflik dalam rumah tangga sahabat saya, dimana ia sangat tidak suka dengan kebiasaan ini. Namun si suami juga tidak mau mengalah, dengan tetap mempertahankan habitnya yang dirasa sahabat saya sangat menganggunya. Solusinya? Sahabat saya mengalah, namun suatu ketika ada titik puncak yang meledakkan emosinya.

Hal yang paling krusial adalah Visi dan Misi Kehidupan. Hal ini penting karena hal ini yang akan menjadi penyemangat suami dan istri dalam berumah tangga. Apabila keduanya memiliki Visi dan Misi kehidupan yang bertolak belakang, akan sangat sulit untuk dapat saling mendukung satu sama lain, dan sulit untuk membangun bounding. Selain itu akan menimbulkan perbedaan pendapat dikarenakan tujuan hidupnya sudah berbeda.

4. Sabar

Dalam pernikahan akan ada banyak ketidaksempurnaan yang ditemui. Ketika di awal menikah atau sebelum menikah, biasanya kita sudah berekspektasi banyak dan tinggi terhadap pasangan. Alangkah baiknya jika selain ekspektasi yang tinggi kita bangun, kelapangan dada untuk menghempaskan ekspetasi kita tersebut juga harus kita bangun dengan tinggi. Hal ini penting agar kita tidak merasa kecewa berkepanjangan. Dan ingtalah bahwa pasangan kita adalah manusia biasanya, sama seperti kita yang memiliki banyak ketidaksempurnaan.

Dengan sabar, nantinya akan terbangun semangat untuk menyempurnakan pasangan kita yang penuh dengan ketidaksempurnaan.

5. Menjaga Ketenangan Diri

Usia muda identik dengan kematangan diri yang masih dipertanyakan. Emosi kadang cepat muncul dan cepat tenggelam. Hal ini wajar karena pengalaman yang di dapat dalam hidup masih serba apa adanya. Berbeda dengan orang tua yang sudah menjalani asam, manis, pahit, asinnya kehidupan selama berpuluh-puluh tahun. Ketika menikah di usia muda, ibaratnya kita baru saja memasuki hutan rimba yang kita tidak tahu seperti apa isinya dan masih belum banyak pengalaman yang kita punya. Terkadang hal ini menimbulkan tekanan psikis, dan bisa mengakibatkan stres.

Saya sendiri mengalaminya, stres di usia pernikahan saya saat masih tiga minggu. Saya merasa kewajiban saya terlalu berat. Salah satunya adalah tugas rumah tangga. Saya bekerja di pagi hari hingga sore, saat malam saya biasanya memulai pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga, yaitu menyapu, mengepel, menyetrika, mencuci, menjemur, dan lain sebagainya. Hal ini memberikan tekanan yang cukup berat bagi saya. Karena ketika single dulu biasanya urusan-urusan tadi sudah diselesaikan oleh pembantu. Hal ini harus dikomunikasikan kepada suami, agar kita diberi jeda untuk berdamai dengan diri sendiri, untuk ISTIRAHAT-lah intinya.

Komunikasi kepada suami mengenai beban yang kita rasakan, apa yang kita sukai, apa yang tidak kita sukai merupakan hal penting. Saya selalu meminta suami untuk bersikap baik kepada saya, agar saya dapat tenang dalam menjalani rutinitas saya sebagai wanita karir dan juga ibu rumah tangga. Dan hal ini harus dikomunikasikan dengan cara yang santun. Ada sahabat saya yang tidak mengomunikasikan beban pekerjaannya kepada suami, dan ia malah cenderung menyalahkan suami yang tidak peka. Well, actually manusia itu hanya memiliki 5 indera, tidak ada indera ke-6 yang bisa menebak tanpa diberitahu. Manusia bukan ahli ramal, jadi semua hal memang harus dikomunikasikan dengan baik. Dengan komunikasi yang baik maka nanti diharapkan kita akan mendapat kelonggaran dan pengertian dari pasangan. Terlebih jangan terllau memaksakan diri, lakukan smemapunya namun dengan hasil yang terbaik. Sehingga ada jeda bagi kita untuk menenangkan diri.

6. Mendefinisikan Tujuan Menikah

Kamu menikah untuk apa? Jika hanya ingin menikmati indahnya maka sebaiknya urungkan saja niat untuk menikah. Salah satu hal yang tidak bisa dihindari adalah tantangan yang semakin rumit, hal ini jelas ada untuk menaikkan level diri kita.

Pernikahan bukan melulu soal mau punya anak berapa, mau tinggal dimana, mau bulan madu dimana. Pernikahan lebih besar dari soal remeh-temeh seperti itu. Jadi bagaimana untuk menemukan tujuan pernikahan? Sebaiknya anda definisikan dulu arti hidup dan arti menikah dalam diri anda. Jangan sampai tujuan pernikahan anda terlalu dangkal atau anda menikah tanpa tujuan sama sekali.

Menikah Muda

Menikah di usia muda,  tidak pernah terbersit sedikitpun kemauan ini muncul di benakku.  Kemauan ini aku pikirkan setelah ada laki-laki yang berani mendatangi Bapak dan menyampaikan niatnya untuk meminangku.
Takut,  khawatir,  dan cemas.  Berjuta pertanyaan mendadak menyerbu,  minta dijawab sekaligus.  Semua serba membingungkan.
Tidak pernah sedikitpun ujung jari ini mencoba membuka buku panduan pernikahan,  panduan membina rumah tangga sakinah mawadah dan rahmah,  maupun buku tentang parenting sebelumnya.  Aku hanya pernah bertanya,  mendengarkan dari orang-orang secara tidak sengaja,  dan membaca via broadcast di whatsapp atau artikel di facebook teman.  Niatan untuk mempelajari lebih serius mengenai ilmu tentang pernikahan tidak pernah muncul,  karena terlalu malu untuk membacanya.  Pikiranku waktu itu,  kan aku masih kecil tidak usahlah membaca seperti itu.  Aku menargetkan diri untuk membaca semua hal tentang pernikahan dan rumah tangga secara serius jika aku sudah berusia ya 24 tahun lah.
Karena tidak ada uzur yang mengharuskanku mempelajarinya maka aku lebih suka mempelajari hal lain,  jauh dari pernikahan atau membina rumah tangga.
Sampai pinangan itu datang,  menuju pembicaraan yang lebih serius.  Aku mendatangi orang yang aku anggap mampu untuk mengajariku untuk meminta pertimbangan.  Beliau memberiku sebuah buku tentang pernikahan.  Disitulah untuk pertama kalinya aku belajar dengan serius apa itu pernikahan.
Kesimpulan besar yang kuambil setelah membaca buku tersebut adalah,  pernikahan adalah suatu hal berat!  Sangat berat!  Bagaimana tidak aku yang biasanya sibuk dengan urusanku sendiri,  nantinya akan sibuk dengan urusan pria yang akan menghabiskan hidup bersamaku hingga akhir hayat nanti.  Belum lagi probabilitas untuk menghadapi perbedaan,  tanggungan anak,  tuntutan yang lebih besar dari masyarakat karena setelah menikah aku akan menjadi makhluk dewasa di hadapan masyarakat.  Bukan lagi anak dari Bapak atau Ibuku,  tapi orang akan mengenalku sebagai individu yang berdiri sendiri,  bersama suamiku.
Ini yang paling kutakutkan,  lepas dari rangkulan Bapak dan Ibu.
Catatan Istri Muda

Catatan Istri Muda

Menjadi istri merupakan sebuah kebanggan bagi setiap wanita.

Akhirnya wanita dimilliki dengan cara yang halal, dengan restu sempurna dari keluarga dan Tuhannya.

Akan ada saatnya setiap wanita diperistri dengan cara yang hormat.